02 Mei 2009

Zodiak Body Painting

Apa zodiak anda.....?

Berikut ini merupakan symbol Zodiak,tapi berdasarkan Body Painting (Seni cat pada tubuh).


























Bagaimana.....Zodiak anda yang mana....??

image source

Tak Selamanya Selingkuh itu Indah

Selingkuh....?Nggak Lha yau...!!!!
No...no..no...,Selingkuh merupakan perbuatan pengkhianatan akan cinta kita kepada seseorang yang kita cintai.
Perbuatan Selingkuh amatlah tidak terpuji.Betapa tidak coba anda bayangkan kalau pasangan anda mengkhianati akan Cinta tulus anda yang sudah anda berikan.

Sakit,dan menyakitkan...,maka dari itu janganlah anda berselingkuh...
Berikut ini adalah moment menarik,dan pesan saya...

Dont Try this moment With Your Couple.....!!!!!!!!!!!















info

19 Maret 2009

Alas Purwo Banyuwangi


Ingin Jadi Sumbu Kebangkitan Majapahit

Ketika Kerajaan Majapahit runtuh abad ke-14, para manggala kerajaan berucap, ''Boleh saja kerajaan mereka dihancurkan, tetapi tunggu lima ratus tahun lagi anak cucu mereka akan bangkit dan menagih kembali bekas wilayah Majapahit.


Itulah yang diyakini sebagian besar umat Hindu Banyuwangi, sehingga kini ada kebanggaan bagi mereka untuk kembali ke agama Hindu. Semangat itulah yang menyertai pelaksanaan piodalan di Pura Giri Selaka, Alas Purwo, pada hari Pagerwesi, Rabu (11/9) lalu. Bagaimana kondisi umat Hindu di sekitar Ala Purwo saat ini? Masalah apa yang dihadapi umat Hindu di sana untuk kembali kepada jati diri sebagai Hindu?

Mendengar nama Alas Purwo, imajinasi orang pasti akan tertuju pada sebuah kawasan hutan lebat. Hal itu memang benar, Alas Purwo adalah sebuah kawasan hutan Taman Nasional di bawah lingkup Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Lantas apa hubungannya antara Pura Giri Selaka dan Alas Purwo itu?

Itulah fenomena yang tampaknya mengiringi keberadaan hampir semua pura bersejarah, tidak saja di Bali namun juga di Jawa. Untuk menuju Pura Alas Purwo yang disungsung umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, para pemedek mesti memasuki kawasan hutan Taman Nasional Alas Purwo. Dari pintu depan kawasan hutan Taman Nasional, diperlukan waktu satu jam menuju Pura Giri Selaka dengan kondisi jalan yang belum beraspal.

Di kanan-kiri kita hanya berjejer hutan jati, dan jumlah masyarakat yang lewat pun bisa dihitung dengan jari. Bagi pemedek yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, masyarakat sekitar menyiapkan sebuah angkutan tradisional yang lazim disebut grandong. Angkutan ini mirip sebuah mobil truk, akan tetapi mesinnya menggunakan mesin genset. Harga sewanya menuju Pura Giri Selaka sekitar Rp 2.500 per sekali angkut.

Untuk menemukan Pura Giri Selaka, memang harus siap banyak bertanya kepada masyarakat di sepanjang perjalanan. Jika tidak, jangan harap perjalanan bisa lancar, apalagi baru sekali-dua kali ke tempat tujuan. Pasalnya, banyak cabang jalan yang tanpa pelang nama Alas Purwo, sehingga perjalanan dari Bali menuju Alas Purwo bisa kita tempuh 9-10 jam dengan kondisi seperti itu.

Pura Giri Selaka berada di tengah hutan dan sekitar tiga kilometernya adalah kawasan wisata pantai Plengkung, bibir Alas Purwo itu sendiri. Di kawasan ini, memang tidak ada satu pun rumah penduduk. Kalau mau bermalam, pihak pengelola Taman Wisata menyediakan sejumlah penginapan sederhana, jaraknya sekitar satu kilometer dari Pura Giri Selaka. Meski tersedia sejumlah penginapan, tampaknya para pemedek yang ingin tangkil ke Pura Giri Selaka lebih memilih makemit di areal pura. Apalagi, areal pura saat ini telah mencapai luas dua hektar hasil pemberian Menteri Kehutanan sebagai penanggung jawab Taman Nasional bersangkutan.

Menurut sesepuh umat Hindu Tegaldlimo, Pemangku Ali Wahono, sebetulnya Pura Giri Selaka ditemukan secara tidak sengaja oleh umat di sekitarnya pada tahun 1967. Saat itu, masyarakat Kecamatan Tegaldlimo melakukan perabasan terhadap sejumlah kawasan hutan Alas Purwo untuk bercocok tanam. Daerah di sekitar pura pun tampak cukup makmur dengan hasil palawijanya. Suatu ketika, di tempat berdirinya Pura Alas Purwo yang oleh masyarakat disebut Situs Alas Purwo, ada sebuah gundukan tanah.

Masyarakat ingin meratakan dan menjadikan lahan cocok tanam. Tanpa diduga, ada bungkahan-bungkahan bata besar yang masih tertumpuk. Persis seperti gapura kecil. Lantas masyarakat sekitarnya membawa bungkahan bata-bata itu ke rumahnya. Ada yang menjadikan bahan membuat tungku dapur, ada juga untuk membuat alas rumah. Rupanya, keluguan masyarakat itu telah menyebabkan munculnya musibah bagi warga yang mengambil bata-bata tersebut.

Selang beberapa saat setelah mengambil bata itu, semuanya jatuh sakit. Pada saat itulah, ada sabda agar bongkahan batu bata tersebut dikembalikan ke tempatnya semula. Bongkahan-bongkahan itu adalah tempat petapakan maharesi suci Hindu zaman dulu. Meski belum ada catatan resmi dalam prasasti, masyarakat mempercayai yang malinggih di situs Pura Alas Purwo adalah Empu Bharadah. Tetapi, ada juga yang menyebut Rsi Markandiya sebelum mereka menuju Bali. Selanjutnya, masyarakat setempat sangat yakin dengan kekuatan dan kesucian situs Alas Purwo tersebut. Sampai ada keinginan seorang warga untuk memagari situs itu agar aman dari jangkauan orang jahil. Akan tetapi, belum sampai tuntas mewujudkan keinginannya, warga tersebut keburu meninggal. Dari kejadian itu didapatkan sabda, kalau situs Alas Purwo itu wajib dipuja semua umat manusia di muka bumi ini tanpa dibatasi sekat-sekat golongan.


Kemudian ada upaya dari pihak Dinas Purbakala untuk menjadikan situs Alas Purwo sebagai benda peninggalan sejarah. Di sisi lain, umat Hindu yang mayoritas bertempat tinggal di sekitar Mariyan -- nama kawasan yang telah dibabat hutannya itu -- tetap meyakini kalau situs itu adalah milik nenek moyang Hindu zaman dulu. Untuk menghindari adanya kejadian yang tak diinginkan, umat Hindu akhirnya membuatkan sebuah pura, sekitar 65 meter dari situs Alas Purwo saat ini. Sementara situs itu sendiri dibiarkan seperti semula, namun tetap menjadi tempat pemujaan bagi semua umat manusia, tak terbatas hanya umat Hindu.

Bicara soal kesucian dan keajaiban situs Alas Purwo ini, memang berderet peristiwa menjadi pengalaman masyarakat penyungsung-nya. Itulah sebabnya, sejumlah pejabat maupun mantan pejabat terkenal pernah melakukan pemujaan di situs Alas Purwo ini. Tujuannya pun bermacam-macam. ''Hampir semua yang di-tunas, kesuecan Ida Batara yang malinggih di sini. Hanya, semua kembali kepada swakarma-nya,'' ujar Mangku Adi, salah seorang pemangku setempat. Seiring dengan perjalanan waktu, pada tahun 1972 ada kebijakan Departemen Kehutanan dan Perkebunan untuk menagih kembali lahan hasil rabasan penduduk di kawasan Mariyan tersebut. Secara bertahap lahan dikembalikan menjadi hutan jati seperti sekarang ini, dan semua penduduk yang melakukan perabasan hutan itu kembali ke kampung masing-masing. Proses pengembaliannya ini selesai pada tahun 1975. Setelah itulah, situs Alas Purwo tinggal pada kesendiriannya, jauh dari rumah penduduk.

Meski demikian, Departemen Kehutanan memberikan kebebasan kepada mayarakat yang ingin melakukan persembahyangan atau pun meditasi di situs tersebut. Apalagi, umat Hindu yang kini telah kembali ''pulang'' ke kawitan-nya setelah peristiwa G-30-S/PKI tahun 1965 lalu. Mereka beranggapan sekaranglah kebangkitan Hindu itu akan terbukti, setelah 500 tahun runtuhnya Majapahit pada abad ke-14. Dan, itu salah satunya dimulai dari kerinduan umat Hindu Banyuwangi untuk menelesuri jejak nenek moyangnya. Diharapkan, dari situs Alas Purwo inilah bisa jadi sumbu penghubung Hindu tanah Jawa kelak. * Agus Astapa




Sumber:www.balipost.co.id

Menguak Isu Santet Banyuwangi

Salah satu kelompok masyarakat adat yang memiliki tradisi unik dan langka di daerah Jawa Timur adalah suku using. Kelompok masyarakat yang terletak di daerah pinggiran Banyuwangi ini memiliki tradisi lisan warisan kerajaan Blambangan, yakni tidak lain adalah memuja mantra. Mantra adalah Do’a Sakral kesukuan yang mengandung Magis dan berkekuatan Ghoib.

Diantara mantra yang sering dipakai adalah Sabuk Mangir dan Jaran Goyang. Kedua mantra ini masing masing memiliki kekuatan magis yang berlainan. Sabuk Mangir merupakan mantra yang pada prakteknya digunakan untuk pengasihan(mendapatkan jodoh) secara halus. Sedangkan Jaran Goyang merupakan mantra yang digunakan untuk pengasihan secara kasar.
Buku Memuja Mantra; Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using Banyuwangi berusaha membahas secara komprehensif ihwal praktek santet suku Using Banyuwangi. Buku yang ditulis oleh Heru S. Saputra, Dosen Universitas Jember (UNEJ) ini berangkat dari penelitian lapangannya di tiga tempat desa kultural Using yang berbasis mantra seperti Desa Kemiren dan Olehsari (keduanya di Kecamatan Gajah) serta Mangir (Kecamatan Rojogampi).
Tradisi bermantra sebenarnya sejak lama telah mengakar kuat dalam kehidupan kelompok etnik Using. Pada dasarnya, masyarakat Using memiliki berbagai macam mantra. Namun secara garis besar dapat dipilah menjadi tiga jenis. Pertama, mantra berjenis santet yang berfungsi sebagai pengasihan- kemudian dikenal dengan istilah - magi kuning jika mengandung positif dan magi merah jika mengandung negative. Kedua, mantra berjenis sihir yang bersifat merusak dan berpotensi menghilangkan nyawa- kemudian dikenal dengan istilah - magi hitam. Ketiga, mantra yang bersifat positif, yakni mantra yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit- kemudian dikenal dengan istilah magi putih.
Artikel hanya membahas pada mantra berjenis santet, yakni mantra Sabuk Mangir dan Mantra Jaran Goyang. Alasannya dua mantra inilah yang sering digunakan masyarakat Using. Magi bagi masyarakat Using merupakan sesuatu yang diyakini mampu memberi kekuatan ghaib dan mampu mempengaruhi alam pikiran dan prilaku seseorang. Sedangkan santet merupakan salah satu jenis ngelmu yang dimiliki masyarakat using, yakni ngelmu pengasihan.
Pada umumnya, Mantra Sabuk Mangir digunakan oleh para kawula muda untuk mendapatkan jodoh. Mereka melakukan mantra ini dilandasi dengan ketulusan hati, yakni untuk mendapatkan kebahagiaan secara hakiki. Proses bekerjanya kekuatan magi pada mantra Sabuk Mangir berjalan dengan halus atau pelan – pelan sehingga seseorang yang terkena oleh mantra tersebut tidak akan menyadari bahwa dirinya terkena ngelmu ghaib. Oleh karena itu, pengaruh kekuatan magi terhadap kesadaran seseorang terasa alami.
Mantra yang dapat digunakan oleh laki-laki untuk memikat perempuan atau digunakan oleh perempuan untuk memikat laki-laki ini tidak memiliki dampak social yang berarti. Sementara itu, Mantra Jaran Goyang termasuk jenis Mantra santet bermagi merah digunakan untuk pengasihan ( percintaan ) antarinividu dengan diwarnai rasa dendam. Proses bekerjanya kekuatan magi pada mantra Jaran Goyang berjalan lebih kasar atau cepat sehingga seseorang yang terkena mantra akan berprilaku tidakwajar atau tidak alami. Pada umumnya, Mantra Jaran Goyang ini digunakan oleh laki-laki untuk memikat perempuan. Namun, mantra Jaran Goyang ini memiliki dampak social yang negative, baik bagi si subjek ( pemantra ) maupun si objek. Selain itu, hasil pemanfaatan mantra Jaran Goyang bersifat fariatif dari tingkatan tergila-gila sampai gila beneran.
Fungsi mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang bagi masyarakat using dapat dipilah menjadi dua fungsi individual dan social. Fungsi individual tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan psoikis dan biologis Sementara itu, fungsi sosial mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang dapat bersifat integrative ( menyatu ) dan disintegratif ( memisah). Kedua fungsi ini berlaku ketika mereka tidak mampu memanfaatkan mekanisme budaya lokal. Budaya local yang digunakan untuk mencari jodoh misalnya Gredhoan ( mencari jodoh sesuan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW ), Bathokan ( mencari jodoh dengan memanfaatkan media warung tradisional ) dan Mlayokaken atau Colongan ( mencari jodoh dengan cara melarikan atau mencuri pacar untuk dinikahi ). Selain fungsi utama sebagai pranata social tradisional, fungsi social lain mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang adalah sebagai penekan atau pemaksa berlakunya tata nilai dalam masyarakat, sebagai peningkatan perasaan solidaritas kelompok, dan sebagai penebal kekuatan emosi religiusitas atau kepercayaan terhadap kekuatan supranatural.
Hal ini merupakan potret khasanah tradisi local masyarakat Using Jawa Timur yang tergolong langka. Selain berusaha membuka tabir teka-teki mantra, juga membahas secara gamblang misteri santet. Sebuah artikel yang berusaha menguak sisi lain kehidupan abad modern melalui kajian antropologis.

Referensi:
Judul Buku : Memuja Mantra; Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using Banyuwangi.
Penulis : Heru S. P. Saputra
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, September 2007
Tebal : xxxix + 394 halaman
Peresensi : Ahmad Hasan MS,Pustakawan KUTUB Yogyakarta. Domisili di Jl Parangtritis KM 07 Cabeyan Panggungharjo Bantul
romdan.wordpress.com